Analisis dalam Strategi Persaingan Global
I.
Pendahuluan
Persaingan dunia usaha akan semakin
ketat menjelang era perdagangan bebas antar negara di kawasan Asia Pasifik yang
akan dimulai tahun 2010 bagi negara maju dan tahun 2020 bagi negara berkembang.
Persaingan global merupakan suatu tahap perkembangan fenomena budaya yang harus
dilalui oleh kemajuan peradaban dan kehidupan. Yang terpenting adalah bagaimana
menentukan sikap dan mempersiapkan diri untuk menghadapi datangnya fenomena
tersebut.
Globalisasi ekonomi dan sistem pasar
bebas dunia menempatkan Indonesia menjadi bagian dari sistem tersebut. Melalui
perambatan budaya asing ke Indonesia. Globalisasi menyentuh seluruh aspek
penting dalam kehidupan dan menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan
baru yang harus dipecahkan guna memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan
kehidupan.
II.
Teori
• Analisis Industri
Industri dalam arti sempit adalah
kumpulan perusahaan yang menghasilkan produk sejenis dimana terdapat kesamaan
dalam bahan baku yang digunakan, proses, bentuk produk akhir, dan konsumen
akhir. Dalam arti yang lebih luas, industri dapat didefinisikan sebagai
kumpulan perusahaan yang memproduksi barang dan jasa dengan elastisitas silang
yang positif dan tinggi (Kuncoro, 2007).
Teori
organisasi Industri oleh Joe S. Bain (1950) yang menyatakan bahwa struktur
industri tidak hanya terbatas pada ukuran besarnya industri, tetapi juga
ditentukan dengan mobilitas hambatan masuk ke dalam industri.
Analisis
Industri merupakan salah satu bagian dari analisis fundamental. Analisis
industri biasanya dilakukan setelah kita melakukan analisis ekonomi. Analisis
industri menjadi tahap penting yang harus dilakukan. Para investor dan analis
dapat mengidentifikasi peluang investasi, risiko dan return yang diharapkan
kedepannya.
• Keunggulan Kompetitif
Menurut Michael E. Porter dalam
tulisannya berjudul “Competitive Advantage : Creating and Sustaining Superior
Performance” keunggulan kompetitif bertumbuh secara fundamental dari nilai yang
memungkinkan perusahaan untuk menciptakan nilai itu bagi para pembelinya
melebihi biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk menciptakannya.
• Persaingan Global dan Keunggulan
Kompetitif Nasional
o
Persaingan Global
Merupakan suatu tahap perkembangan
fenomena budaya yang harus dilalui oleh kemajuan peradaban dan kehidupan. Yang
terpenting adalah bagaimana menentukan sikap dan mempersiapkan diri untuk
menghadapi datangnya fenomena tersebut.
o
Keunggulan Kompetitif
Kemampuan yang dimiliki oleh sebuah
organisasi untuk merumuskan strategi dan mengaplikasikannya pada suatu posisi
yang tepat dengan menggunakan kemampuan karakteristik dan segala sumber daya
yang dimiliki oleh perusahaan dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan yang
sebesar-besarnya. Ada dua hal yang akan mempengaruhi tercapainya keunggulan
kompetitif, yaitu harga yang rendah dan keunikan produk itu sendiri.
o
Keunggulan Kompetitif Nasional
Merupakan
penilaian kemampuan suatu negara untuk berpartisipasi kompetitif di pasar
internasional. Beberapa negara memiliki keunggulan lebih dari yang lain, karena
berbagai alasan. Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, pemerintah dapat
mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan mereka untuk meningkatkan keunggulan
kompetitif nasional mereka.
III.
Analisis
1.
Analisis
Industri
Dalam
suatu penelitian penting mengenai daya saing internasional, agar industri suatu
negara dapat berhasil di pasar global, industry tersebut harus memiliki :
-
Kondisi
– kondisi faktor yang menguntungkan
Hal
Ini mencakup terdapatnya sumber – sumber daya kunci (termasuk keterampilan,
infrastruktur, dan lembaga penelitian). Penelitian Michael Porter juga
menemukan, bila negara – negara mempunyai faktor kelemahan tertentu, mereka
akan di paksa berinovasi untuk mengatasi (atau menghindari) masalah-masalah
tersebut. Hal ini, pada saatnya, membentuk dasar dari keunggulan kompetitif
(misalnya, bila sejak awal biaya energi di suatu negara tinggi, maka hal
tersebut memaksa perlunya dikembangkan produk – produk dan proses – proses yang
hemat energi, yang kemudian di perlukan di seluruh dunia).
-
Kondisi
– kondisi permintaan
Di
dalam negeri harus ada permintaan yang kuat akan produk – produk yang canggih.
Konsumen dalam negeri yang penurut merupakan kerugian, karena mereka tidak
mendesak industri untuk berinovasi dan mencapai yang terbaik.
-
Indusri
– industri yang berkaitan dan mendukung
Suatu
jaringan industri yang mendukung dan berkaitan akan membantu indutri untuk
mencapai keunggulan global.
-
Strategi,
struktur, dan persaingan yang teguh
Dari
faktor-faktor ini, barang kali yang paling penting adalah jangkauan persaingan
pada industri dalam negeri. Bukti- bukti secara kuat mendukung pandangan bahwa
persaingan dalam negeri adalah sangat penting. Sebaliknya, bila pemerintah
mendorong merger untuk menciptakan monopoli dalam negeri (untuk mendapatkan
‘masa kritis’ yang di perlukan untuk menjadi pemain global), secara keseluruhan
monopoli tersebut tidak berhasil menetapkan posisi di dunia. Persaingan yang
pahit diantara perusahaan-perusahaan setempat telah menjadi pemacu inovasi.
2.
Keunggulan
Kompetitif
Perusahaan
harus menstandardisasi produk dan jasanya untuk kebutuhan pasar secara global.
Pendekatan yang diberikannya didasarkan pada tiga asumsi utama :
*
Kebutuhan dan keinginan konsumen secara keseluruhan semakin homogen. Disini
perusahaan harus dapat mengidentifikasi segmen konsumen secara global.
*
Orang-orang diseluruh dunia rela berusaha untuk mendapatkan keinginannya yang
berhubungan dengan fitur produk, fungsi, desain, dan hal-hal lain seperti
produk berharga murah dengan kualitas
yang baik.
*
Skala ekonomi pada produksi dan pemasaran dapat diperoleh dengan memasok pasar
global. Perspektif ini perlu memperhatikan tiga hal. Pertama, pengembangan
teknologi dengan penggunaan mesin memungkinkan skala ekonomi terpenuhi dan
tidak memerlukan produksi pada satu produk terstandarisasi. Kedua, biaya
produksi hanya merupakan satu komponen dan sering menjadi hal yang penting
untuk menentukan total biaya pembuatan produk. Ketiga, strategi perusahaan
tidak boleh product-driven.
3.
Persaingan
Global Dan Keunggulan Kompetitif Nasional
Teori
keunggulan kompetitif dikemukakan oleh Michael Porter dalam bukunya The
Competitve Advantage of Nation (1990). Menurut Porter tidak ada korelasi
langsung antara dua faktor produksi (sumber daya alam yang melimpah dan sumber
daya manusia yang murah) yang dimiliki suatu negara, yang dimanfaatkan menjadi
keunggulan daya saing dalam perdagangan internasional. Banyak negara di dunia
yang jumlah sumber daya alamnya sangat besar yang proporsional dengan luas
negerinya, tetapi terbelakang dalam daya saing perdagangan internasional.
Begitu juga dengan tingkat upah yang relatif murah daripada negara lain, justru
berkorelasi erat dengan rendahnya motivasi bekerja yang keras dan berprestasi.
Porter
mendefinisikan industri sebuah negara sebagai sukses secara internasional jika
memiliki keunggulan kompetitif relatif terhadap para pesaing terbaik di seluruh
dunia. Sebagai indikator ia memilih keberadaan ekspor yang besar dan bertahan
lama dan/atau investasi asing di luar wilayah yang signifikan berdasarkan pada
keterampilan dan aktiva yang diciptakan di negara asal.
Kondisi
permintaan dalam negeri yang dapat mendukung industri tersebut menjadi lebih
dikenal dan merupakan jalan untuk menjadi di kenal di luar negeri. Mis : Toyota
dahulunya hanya di produksi di Jepang saja, karena banyak peminat untuk membeli
mobil tersebut oleh orang Jepang sendiri, membuat mobil merek Toyota tersebut
di kenal sampai ke luar negeri. Kondisi permintaan di negara sendiri yang
mendukung keunggulan kompetitif memiliki tiga karakter, yaitu : a. Komposisi
permintaan di negara sendiri, dimana menentukan bagaimana perusahaan menerima,
menginterpretasikan dan memberi reaksi pada kebutuhan pembeli. Keunggulan
kompetitif dapat dicapai kalau permintaan di negara sendiri memberikan gambaran
yang lebih baik mengenai kebutuhan pembeli, lebih awal dari yang disediakan
oleh pesaing luar negeri. b. Ukuran dan pola pertumbuhan di negara sendiri,
adalah penting hanya bila komposisi permintaan di negara sendiri baik dan dapat
mengantisipasi permintaan di luar negeri. c. Pertumbuhan pasar dalam negeri
yang cepat.
IV.
Referensi
:
Internet:
Buku:
Mudrajad,
Kuncoro. 2007. Metode Riset Untuk Bisnis dan Ekonomi. Jakarta : Erlangga
Porter,
Michael E. 1996. Strategi Bersaing: Teknik Menganalisis Industri dan Pesaing.
Jakarta : Erlangga
Porter,
Michael E. 1980. “Competitive Strategy” Techniques For Analysing Inudstries and
Competitors. New York : The Free Press.
Komentar
Posting Komentar